Oleh: Ahmad Kekal Hamdani
Bagi masyarakat perkotaan,
mengisi waktu senggang dengan memasuki museum atau galeri seni rupa
barangkali hal yang lumrah. Hampir di setiap kota-kota besar yang
memiliki gedung “Taman Budaya” dan fasilitas kesenian lainnya hal ini
tentu bukanlah hal yang mengejutkan. Kita bisa menikmati setiap saat
suguhan-suguhan mulai dari seni pertunjukan, musik, seni rupa, bahkan
resitasi sastra dengan komunitasnya masing-masing yang terus
berdialektika. Di Yogyakarta, Bandung, Bali, Jakarta dan Semarang
misalnya, sebagai salah sekian kota yang dianggap berbudaya dengan
banyaknya seniman -dari berbagai disiplin- yang lahir dan berproses di
kota ini lengkap dengan arena pasarnya.
Tapi marilah
sejenak kita berjalan-jalan ke suatu sudut tempat yang lain. Barangkali
pada suatu pedusunan atau desa-desa yang kerap dianggap tertinggal dan
bangkrut secara ekonomi. Suatu tempat yang masih terhindar dari hingar
bingar industri serta minim fasilitas-fasilitas kesenian -bahkan
fasilitas pendidikan- apakah yang kita temukan di sana? Mungkin
citraan-citraan alam murni sebagaimana kita temukan dalam
lukisan-lukisan mooe-indie. Alam, manusia, masyarakat serta
ritual-ritual yang membawa aura eksotiknya.
Kita mudah
sekali terlena di kala masuk pada jantung kehidupan yang satu ini
(baca: desa) seperti menemukan udara segar dari polusi-polusi kawasan
urban yang sesak dan serba cepat. Namun selalu ada yang luput dari kaca
pandang kita, bahwa desa-desa dan daerah-daerah tertinggal lainnya
merupakan suatu gejala riil di mana kebudayaan kita -khususnya seni-
mengalami rentang jarak yang cukup jauh antara kota yang diwakili kaum
urban dan desa dengan masyarakat tradisionalnya.
Kesenjangan
dimaksud bukan hanya dari segi bagaimana masing-masing masyarakatnya
yang dipisahkan oleh sistem kulturalnya memproduksi benda-benda
kebudayaannya. Tetapi menjurus pada aspek-aspek ketimpangan
sosial-politik, ekonomi dan budaya secara lebih luas.
Tentu
bukanlah perbincangan baru perihal desa kota dalam kajian kebudayaan
kita. Namun terlepas dari wacana apapun yang sedang bergulir, saya
seperti merasa bahwa ada kerancuan problematis di dalam kesenian kita
jika memandang jurang antara keduanya. Hal ini tentu jika kita masih
percaya bahwa di luar fungsi estetiknya, kesenian selain sebagai
cerminan dari zaman dan masyarakatnya, ia (seni) juga merupakan
ungkapan atau capaian dari cita-cita generasi untuk zamannya.
Pop
Art atau Contemporary Art misalnya, sebagai anak kandung dari
postmodernitas yang berkembang di Barat berusaha menghancurkan
klaim-klaim “universalitas” modern, mendobrak sekat-sekat antara High
Art dan Low Art, dan bergeser dari budaya tinggi (civilization) ke
budaya umum (culture). Sebuah gerakan emansipatif yang tidak hanya
mendobrak dunia seni pada zaman dan ruangnya kala itu, tetapi
mempengaruhi bagaimana nilai-nilai dalam masyarakat didobrak dan
diproduksi kembali. Kita sebut saja beberapa nama, Andy Warhol,
Pollock, Basquiat dan sebagainya.
Para pemikir
posmodernisme seperti (Lyotard, Vattimo, Derrida, Habermas,
Baudrillard, dsb) berpandangan bahwa seni yang berasosiasi dengan
wacana posmodern memiliki beberapa gejala, antara lain: adanya
penghapusan batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari, runtuhnya
perbedaan hierarkis antara budaya tinggi [civilization] dengan budaya
umum [culture], percampuran gaya dan berbagai aturan (eklektik),
bersifat pastice (karya seni yang dimaksudkan sebagai sindiran terhadap
seniman lain, ironi, lelucon tentang kedangkalan budaya), menurunnya
orisinalitas atau bakat seni, dan asumsi bahwa seni hanya merupakan
pengulangan.
Jika dilihat dari konsepsi dan spirit yang
lahir dari gerakan seni kontemporer di Barat. sepintas perkembangan
seni rupa kontemporer Indonesia seperti lahir tanpa Ibu. Di luar
capaian kekaryaannya, hal ini terasa berjarak dengan kenyataan bahwa
begitu lebarnya kesenjangan lingkungan kesenian (secara umum) dengan
realitas kondisi masyarakat Indonesia secara luas -di luar kalangan
seniman an-sich.
Pertama, tentu saja konsepsi yang
dibangun merupakan kenyataan segmented saja. Pada Pop Art misalnya, hal
ini kurang melihat kenyataan bahwa Indonesia daripada kawasan geografis
maupun kultur lebih dominan desa daripada kota-kota besar. Seni
sebagai peruntuh batasan hirarkis dan emansipatif rupa-rupanya kurang
terwakilkan dalam hal ini. Kedua, beberapa kesenian kita tampaknya asyik
dengan arus besar yang datang dari banjir bah kesenian dan kebudayaan
Barat. Dari yang berwajah tradisional sampai kontemporer pada akhirnya
mesti takluk pada raksasa wacana lewat saluran-saluran akademik serta
jaring-jaring kapitalisme. Ketiga, adalah minimnya usaha-usaha
perluasan efek bola salju kesenian hingga ke seluk-beluk daerah-daerah
yang pada kenyataannya membutuhkan kerja-kerja kritis para seniman.
Indonesia, barangkali suatu kasus yang unik. Sebab di
antara lahirnya seniman-seniman kontemporer di tengah-tengah kita
tampaknya terdapat suatu keganjilan-keganjilan yang menggelikan; bukan
hanya di bidang seni rupa tetapi juga sastra, pertunjukan dan lainnya.
Hal ini barangkali disebabkan meski alam modern telah menggeser
pola-pola kebudayaan Indonesia, akan tetapi masyarakat kita tampaknya
masih terbagi ke dalam dua kosmologi yang cukup alot untuk mengalami
asimilasi yang integratif. Antara alam pikir modern (atau bahkan posmo
yang diwarisi dari barat) dan alam pikir tradisional yang diserap dari
khazanah Timur.
Kesenian pada akhirnya bersumber dan
bertalian kembali dengan masyarakatnya di mana ia menyerap dan tumbuh.
Ketika politik yang begitu mudahnya mereduksi nilai-nilai untuk
kepentingannya (bahkan nilai-nilai agama) tidak mampu melakukan
tugas-tugas emansipasi kemanusiaan. Maka seni, dengan caranya yang khas
mampu memberikan sumbangsih dan Aufklarung (pencerahan) bagi
masyarakatnya. Tentu kita tak pernah bermimpi bahwa di atas capaiaannya
yang mungkin gemerlap, kesenian kita hanya digerakkan oleh kenyataan
kapitalistik yang hampir menyelubungi segala nilai yang kita punya.
Semoga. []
sumber: Koran Merapi (15 September 2013)