Sabtu, 31 Januari 2015

Seni Sebagai Tangan Lain

Oleh: Ahmad Kekal Hamdani 

Bagi masyarakat perkotaan, mengisi waktu senggang dengan memasuki museum atau galeri seni rupa barangkali hal yang lumrah. Hampir di setiap kota-kota besar yang memiliki gedung “Taman Budaya” dan fasilitas kesenian lainnya hal ini tentu bukanlah hal yang mengejutkan. Kita bisa menikmati setiap saat suguhan-suguhan mulai dari seni pertunjukan, musik, seni rupa, bahkan resitasi sastra dengan komunitasnya masing-masing yang terus berdialektika. Di Yogyakarta, Bandung, Bali, Jakarta dan Semarang misalnya, sebagai salah sekian kota yang dianggap berbudaya dengan banyaknya seniman -dari berbagai disiplin- yang lahir dan berproses di kota ini lengkap dengan arena pasarnya.

Tapi marilah sejenak kita berjalan-jalan ke suatu sudut tempat yang lain. Barangkali pada suatu pedusunan atau desa-desa yang kerap dianggap tertinggal dan bangkrut secara ekonomi. Suatu tempat yang masih terhindar dari hingar bingar industri serta minim fasilitas-fasilitas kesenian -bahkan fasilitas pendidikan- apakah yang kita temukan di sana? Mungkin citraan-citraan alam murni sebagaimana kita temukan dalam lukisan-lukisan mooe-indie. Alam, manusia, masyarakat serta ritual-ritual yang membawa aura eksotiknya.

Kita mudah sekali terlena di kala masuk pada jantung kehidupan yang satu ini (baca: desa) seperti menemukan udara segar dari polusi-polusi kawasan urban yang sesak dan serba cepat. Namun selalu ada yang luput dari kaca pandang kita, bahwa desa-desa dan daerah-daerah tertinggal lainnya merupakan suatu gejala riil di mana kebudayaan kita -khususnya seni- mengalami rentang jarak yang cukup jauh antara kota yang diwakili kaum urban dan desa dengan masyarakat tradisionalnya.

Kesenjangan dimaksud bukan hanya dari segi bagaimana masing-masing masyarakatnya yang dipisahkan oleh sistem kulturalnya memproduksi benda-benda kebudayaannya. Tetapi menjurus pada aspek-aspek ketimpangan sosial-politik, ekonomi dan budaya secara lebih luas.  

Tentu bukanlah perbincangan baru perihal desa kota dalam kajian kebudayaan kita. Namun terlepas dari wacana apapun yang sedang bergulir, saya seperti merasa bahwa ada kerancuan problematis di dalam kesenian kita jika memandang jurang antara keduanya. Hal ini tentu jika kita masih percaya bahwa di luar fungsi estetiknya, kesenian selain sebagai cerminan dari zaman dan masyarakatnya, ia (seni) juga merupakan ungkapan atau capaian dari cita-cita generasi untuk zamannya.

Pop Art atau Contemporary Art misalnya, sebagai anak kandung dari postmodernitas yang berkembang di Barat berusaha menghancurkan klaim-klaim “universalitas” modern, mendobrak sekat-sekat antara High Art dan Low Art, dan bergeser dari budaya tinggi (civilization) ke budaya umum (culture). Sebuah gerakan emansipatif yang tidak hanya mendobrak dunia seni pada zaman dan ruangnya kala itu, tetapi mempengaruhi bagaimana nilai-nilai dalam masyarakat didobrak dan diproduksi kembali. Kita sebut saja beberapa nama, Andy Warhol, Pollock, Basquiat dan sebagainya.

Para pemikir posmodernisme seperti (Lyotard, Vattimo, Derrida, Habermas, Baudrillard, dsb) berpandangan bahwa seni yang berasosiasi dengan wacana posmodern memiliki beberapa gejala, antara lain: adanya penghapusan batas antara seni dengan kehidupan sehari-hari, runtuhnya perbedaan hierarkis antara budaya tinggi [civilization] dengan budaya umum [culture], percampuran gaya dan berbagai aturan (eklektik), bersifat pastice (karya seni yang dimaksudkan sebagai sindiran terhadap seniman lain, ironi, lelucon tentang kedangkalan budaya), menurunnya orisinalitas atau bakat seni, dan asumsi bahwa seni hanya merupakan pengulangan.

Jika dilihat dari konsepsi dan spirit yang lahir dari gerakan seni kontemporer di Barat. sepintas perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia seperti lahir tanpa Ibu. Di luar capaian kekaryaannya, hal ini terasa berjarak dengan kenyataan bahwa begitu lebarnya kesenjangan lingkungan kesenian (secara umum) dengan realitas kondisi masyarakat Indonesia secara luas -di luar kalangan seniman an-sich. 

Pertama, tentu saja konsepsi yang dibangun merupakan kenyataan segmented saja. Pada Pop Art misalnya, hal ini kurang melihat kenyataan bahwa Indonesia daripada kawasan geografis maupun kultur lebih dominan desa daripada kota-kota besar. Seni sebagai peruntuh batasan hirarkis dan emansipatif rupa-rupanya kurang terwakilkan dalam hal ini. Kedua, beberapa kesenian kita tampaknya asyik dengan arus besar yang datang dari banjir bah kesenian dan kebudayaan Barat. Dari yang berwajah tradisional sampai kontemporer pada akhirnya mesti takluk pada raksasa wacana lewat saluran-saluran akademik serta jaring-jaring kapitalisme. Ketiga, adalah minimnya usaha-usaha perluasan efek bola salju kesenian hingga ke seluk-beluk daerah-daerah yang pada kenyataannya membutuhkan kerja-kerja kritis para seniman.     

Indonesia, barangkali suatu kasus yang unik. Sebab di antara lahirnya seniman-seniman kontemporer di tengah-tengah kita tampaknya terdapat suatu keganjilan-keganjilan yang menggelikan; bukan hanya di bidang seni rupa tetapi juga sastra, pertunjukan dan lainnya. Hal ini barangkali disebabkan meski alam modern telah menggeser pola-pola kebudayaan Indonesia, akan tetapi masyarakat kita tampaknya masih terbagi ke dalam dua kosmologi yang cukup alot untuk mengalami asimilasi yang integratif. Antara alam pikir modern (atau bahkan posmo yang diwarisi dari barat) dan alam pikir tradisional yang diserap dari khazanah Timur.  

Kesenian pada akhirnya bersumber dan bertalian kembali dengan masyarakatnya di mana ia menyerap dan tumbuh. Ketika politik yang begitu mudahnya mereduksi nilai-nilai untuk kepentingannya (bahkan nilai-nilai agama) tidak mampu melakukan tugas-tugas emansipasi kemanusiaan. Maka seni, dengan caranya yang khas mampu memberikan sumbangsih dan Aufklarung (pencerahan) bagi masyarakatnya. Tentu kita tak pernah bermimpi bahwa di atas capaiaannya yang mungkin gemerlap, kesenian kita hanya digerakkan oleh kenyataan kapitalistik yang hampir menyelubungi segala nilai yang kita punya. Semoga. [] 

sumber: Koran Merapi (15 September 2013)